This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 04 November 2012

Berislamlah Dan Ekspresikan Islammu!

Ekspreis Kambing Ganteng
Entah apa yang tengah terjadi dengan Zaenab. Ia mulai merubah gaya berpakaiannya. Kerudung besar kini sudah tak lagi menghiasi kepalanya. Bahkan hampir saja kerudung mungil dan tipis yang kini melilit lehernya justru memperlihatkan dengan jelas lekuk leher dan pundaknya. Warna pakainnya pun kini berwarna-warni, meriah dan ceria seceria tingkah dan gelak tawanya. Zaenab yang dulu dikenal sebagai muslimah pendiam, santun dan pemalu saat bertemu dengan lawan jenis telah berubah menjadi sosok gadis yang ceriwis, jail dan berani bercanda ria dengan lawan jenis. Bahkan tak hanya dirinya yang mulai berubah, namanya pun berubah menjadi Zee Jik Su, seperti nama artis korea yang kini tengah digandrungi remaja.
Sejak duduk di bangku kuliah, Zaenab yang mantan aktivis rohis di SMA, rupanya terpengaruh dengan pergaulan negatif para mahasiswa. Pergaulan dengan teman-teman kampus yang serba gaul dan glamour membuatnya harus ber’adaptasi’ mengikuti gaya mereka. Dari mulai model berpakaian, gaya bicara hingga tingkah lakunya sudah mulai ke korea-koreaan atau kebarat-baratan.
Zaenab bukanlah satu-satunya remaja muslimah yang mulai kehilangan identitas keislamannya dan beralih latah mengikuti gaya hidup barat ataupun korea. Di sana masih banyak lagi zaenab-zaenab yang lain. Mereka adalah para korban perang budaya yang dilancarkan oleh Barat ke dalam tubuh umat Islam melalui senjata media. Tujuannya jelas merusak akhlak generasi muslim dan menjauhkan mereka dari agama Islam.
Apa yang menimpa zaenab dan kawan-kawan sejenisnya sebenarnya tak perlu terjadi jika para pemuda muslim memiliki dasar afiliasi keIslaman yang kuat dan kekuatan imannya tersebut menemukan tempatnya dalam komunitas yang mendukung. Dalam hal ini, seorang muslim harus mulai mempertanyakan kembali mengapa dia memeluk Islam dan bagaimana seharusnya dia mengaktualisasikan keislamannya.
Seorang muslim/ah harus mengetahui dengan baik basis identitasnya dan elemen-elemen yang membentuk kepribadian individulanya sebagai muslim. Sehingga jika memiliki kekuatan dan jari diri, dengan sendirinya akan menghadirkan imunitas yang kuat ketika bergaul dan berinteraksi dengan budaya-budaya lain. Dengan kekuatan imunitas inilah seorang muslim/ah dapat memilah mana yang harus diambil untuk kemudian diberikan pada umat dan mana yang harus dibuang untuk menjaga identitas umat.
Imunitas itu tentu hanya mungkin tumbuh dan terjaga ketika seorang muslim/ah memahami dengan betul ajaran Islam sebagai basis identitas. Untuk itu, Ia harus terus terlibat aktif dalam aktifitas Islami dan berada dalam lingkungan Islami. Aktif mengikuti kajian-kajian Islami dan bergaul dengan sesama aktifis muslim. Dalam tahap inilah dia berusaha membentuk kembali dasar afilisinya dalam Islam.
Namun seorang muslim/ah tidak hanya dituntut untuk menjadi shalih secara pribadi. Ia harus bergerak lebih maju menuju tahap shalih secara sosial dengan mengaktualisasikan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kata yang keluar dari lisan harus menjadi wujud keIslamannya. Begitu juga dengan sikap, tingkah laku dan cara berpakaiannya harus merupakan  ekspresi kecintaannya akan Islam.
Pada dasarnya ketika seorang menjadi muslim/ah, maka semua perangkat yang melekat dalam tubuhnya adalah alat untuk mendakwahkan Islam. Lisannya, perilakunya dan pakaiannya adalah daya tarik dakwah Islam. Untuk itu setiap muslim harus berpikir dalam kerangka da’i.
Siapapun yang berbicara dengannya, mendengarkannya dan melihatnya akan mendapatkan pancaran keIslaman. Yang lemah imannya akan kuat ketika bertemu dengannya. Yang kuat imannya akan semakin kuat bersamanya. Bahkan yang belum tersentuh hidayah Islam akan memeluk Islam saat bergaul dengannya.
Untuk itu alangkah indahnya ketika sebuah lingkungan dakwah tumbuh dalam komunitas kita. Dengan membangun kembali afiliasi kita dalam beragama akan menguatkan ‘aqidah kita sehingga kita tidak malu mengeksrepsikan Islam atau latah menggandrungi budaya non Islam. Dan dengan menciptakan ekspresi keIslaman diantara kita semakin menguatkan terbentuknya keshalihan pribadi dan keshalihan kolektif. Mari kita mulai berIslam dengan benar lalu mengekspresikannya.

(Taufiqur Rahman)

Perlu ‘Kompres’ untuk Demam Korea

Oleh: Rina Asrina
Masyarakat terutama remaja Indonesia rela mengantri satu hari satu malam demi mendapatkan tiket konser boyband Korea yang harganya mencapai 2 juta rupiah. Mmm... Ada apa dengan Korea?
Hallyu atau demam Korea telah menjadi  virus yang merajalela dan menginfeksi Indonesia sejak 2002 lalu.  Budaya populer Korea ini telah menjadi kiblat tersendiri bagi masyarakat terutama remaja Indonesia yang mulai mengikuti semua trend yang datang dari negeri kimchi ini.  Mulai dari makanan, film, lagu, fashion sampai boy band yang datang dari Korea seolah datang dari syurga dan diburu di mana saja.  Bahkan, masyarakat pun mulai menginjeksi dan menduplikasi diri dengan gaya maupun style Korea dalam kehidupan sehari-hari.
Drama Korea merupakan penyebab dari mulainya Hallyu di berbagai Negara.  Berbagai stasiun televisi di Indonesia mulai menyiarkan drama yang datang dari negara semenanjung Asia tersebut.  Dan wabah demam pun mulai menyebar.
Wabah ini selanjutnya menyuntik penggemarnya dengan musik, sehingga lagu-lagu yang dibawakan penyanyi korea (dikenal dengan K-pop) menjadi booming dan mendapatkan tempat pertama di hati Indonesia.  Selanjutnya masyarakat mulai mengikuti gaya-gaya tersebut sehingga menjadikan wabah semakin tak terbendung.  Indonesia pun menjadi syurga strategis bagi artis korea untuk menggelar konsernya, rakyat pun terbius dan rela antri berhari-hari dan berlomba ‘membuang’ uang saku mereka.  Yang perlu diherankan, darimana para remaja dari kalangan menengah ke bawah ini mendapatkan kocek mahal demi menonton konser-konser itu?
Rupanya wabah demam korea ini kemudian berdampak pada pariwisata. Lokasi syuting drama korea yang terkenal menjadi obyek pariwisata yang digemari para turis untuk dikunjungi. Tentu dengan semakin banyak turis yang mendatangi korea selain berimplikasi terhadap bertambahnya devisa negara juga dapat sekaligus lebih mendekatkan secara emosional antara korea dengan turis. Akan lebih banyak orang yang merasa dekat dengan negara korea dan pelan-pelan akan memunculkan rasa sense of belonging.  Siapa yang gajah siapa yang tikus?
Tentunya  kita harus bertanya kembali telah sampai di mana iman kita?
Sebenarnya jika dilihat dari segi yang lebih luas, demam korea maupun k-pop ini telah merugikan banyak hal bagi rakyat Indonesia yang mayoritas adalah muslim.  Pertama, masyarakat Indonesia terkenal dengan budaya timur yang santun, gotong royong, dan sebagainya.  Jika budaya populer seperti demam korea ini muncul tentunya akan merusak segi-segi itu secara perlahan, dan sudah terjadi dengan  melihat kondisi remaja jaman sekarang yang lebih senang nonton konser bersama teman-temannya daripada berkumpul bersama keluarga atau melakukan kegiatan positif dalam kancah sosial.  Kedua, demam ini telah membuat iman remaja semakin tak terarah sebagai muslim yang  pada akhirnya akan menimbulkan dilema tersendiri bagi remaja tersebut.  Karena sebagai muslim kita harus menjaga semua sisi kehidupan kita dari berbagai hal subhat maupun haram. Dan deskontruksi keimanan pun akan dan sedang terjadi.  Ketiga, akhlak umat yang terkikis dari budaya-budaya non muslim telah benar-benar sedang terjadi.  Dan ketiga hal dari sekian banyak kerugian ini harus ditanggung oleh seluruh umat Islam yang ada di Indonesia.  Apa yang akan terjadi pada generasi memang harus diperhatikan, dan Allah telah benar-benar memfirmankan “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (An Nisa: 138-140) selanjutnya Allah juga telah memperingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).” (QS: Al-Nisaa’. 144).
Menurut Ibn Katsir , yang dimaksud dengan lafadz “auliya’” itu bermakna penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola. Adanya rasa simpatik dan empatik dalam hati karena menjadikan penolong, kekasih, teman akrab, pemimpin dan idola ghairul muslim, bisa menyebabkan lunturnya iman seseorang dan bisa mengkonversi dari mukmin menjadi munafiq.   Maukah kita disebut sebagai golongan munafik itu? Na’udzubillah himindzalik. Allahu’alam bisshawwab

“Demam Idola” Wawancara khusus


Wawancara khusus
bersama Ust Wahyudi KS
(Da’i, Staf Majelis Tarbiyah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah), pengisi Kajian Hikmah Pagi RASIL 720 AM dan Dosen STAI AL-FATAH)

Oleh: Muslimah Zahro

Ust Wahyudi KS
Bagaimana pendapat ustadz tentang fenomena yang sekarang ini tengah menimpa anak muda  yang mangidolakan para artis seperti marakny artis korea ?

Pada dasarnya semua itu merupakan bukti bahwa masyarakat sekarang ini sedang sakit, sakit secara mental juga secara figur. Akhirnya mereka kehilangan figur. Seharusnya yang menjadi figur adalah orang yang sudah jelas kebenarannya seperti halnya Rasulullah dan para sahabatnya, tokoh-tokoh Islam sukses yang banyak memberikan nilai kontribusi positif bagi kaum muslimin dan dunia pada umumnya,  Maka kita boleh mrngidolakan orang-orang seperti mereka. Karena jika kita mengidolakan mereka jelas ada manfaatnya tapi jika mengidolakan artis yang notabene bukan orang muslim, artis yang orang muslim saja masih dalam tanda kutip, sejauh mana artis itu mempunyai komitmen terhadap syari’at Islam. Apalagi ini non muslim yang kehidupannya hura-hura saja. Tidak ada hal yang memberikan nilai kontribusi positif apalagi untuk meningkatkan akhlak, keimanan seseorang.
Coba saja kita saksikan konser-konser , di sana malah terjadi ikhtilat, perzinahan setelah itu terjadi luar biasa. Bahkan dulu pernah terjadi revolusi seks setelah menyaksikan konser yang notabene konser itu adalah memberikan suatu penampilan yang merangsang. Jadi tidak ada nilai-nilai positif yang akan mendidik, justru yang ada kita akan hura-hura, hedonis dan sebagainya. Inilah yang terjadi pada jama’ah muslimin, yang menunjukkan ini adalah bukti bahwa remaja kita dalam kondisi sakit. Akhirnya butuh terapi.

Dengan cara apa agar mereka yang sedang sakit itu bisa disembuhkan ?

Harus melalui tarbiyah, tidak bisa jika dia meninggalkan tarbiyah. Karena, diantara yang akan mendorong perubahan adalah tarbiyah. Kualitas tarbiyah inilah yang harus kita rapikan, kalau tarbiyah ini hanya mendorong atau merubah kognitif dan afektif tidak merubah psikomotorik, tidak ada perubahan sikap hanya perubahan pikiran saja. Kalau istilah sekarang, pendidikan di Indonesia ini kalau dinilai dengan nilai-nilai pendidikan sebenarnya, semestinya Indonesia itu sudah gagal.
Coba kita perhatikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam memadukan pendidikan itu, kekuatan intelligence, emosional dan spiritual. Sementara pendidikan di Indonesia itu lebih banyak kepada kemampuan inteligence, sedangkan  kemampuan emosional dan spiritualnya terkesan diabaikan kalaupun ada, tapi minim sekali. Coba kita perhatikan di sekolah-sekolah kita dikejar oleh nilai tanpa kita perhatikan bagaimana akhlak serta aqidah mereka, kita hanya terpaku pada nilai angka saja. Padahal itu adalah kecerdasan intelektual bukan kecerdasan emosional. Sementara sikap mereka terhadap guru, terhadap sesama teman, dan terhadap lingkungan sekarang sudah tidak menjadi penilaian. Lebih banyak yang menjadikan seseorang naik atau tidaknya di kelas itu lebih banyak ditentukan oleh nilai-nilai yang bersifat inteligence bukan emosional dan spiritual, padahal Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam tidak pernah memisahkan tiga kecerdasan ini antara inteligence (kecerdasan berpikir), emosional dan spiritual. Istilah lain yaitu olah rasa, olah rasio dan olah raga.  Olah rasa adalah keimanan, rasio adalah intelektual, dan olah raga adalah fisik. Jadi, semuanya antara iman, Islam, dan ihsan. Iman adalah kepercayaan hati, Islam adalah tindakan syari’ah, sedangkan ihsan adalah spiritual. Dimana kita merasa Allah melihat kita dan  kita seolah-olah melihat Allah, jika tidak yakinkan bahwa Allah melihat kita itulah yang dinamakan ihsan. Jadi spiritual itulah yang kita gunakan ketika kita kehilangan ihsan dia merasa tidak ada yang memonitor dimana pun dia bebas, ketika berkumpul dengan teman-temannya yang di majlis ta’lim ataupun di masjid misalnya dia baik namun ketika di luar dia bebas lagi karena ihsan itulah yang kurang nilai-nilai spiritual yang minim. Ini adalah karena nilai-nilai tarbiyah yang diterapkan di tengah-tengah kita sebagai tuntutan meski cenderung mengutamakan kecerdasan intelektual tanpa peduli dengan kecerdasan emosional dan spiritual.


Apakah solusi terbaik dalam menyikapi fenomena seperti ini ?

Solusinya harus kembali kepada fitroh (Islam).  Jika kita melihat hari ini bahwa banyak orang-orang barat yang masuk Islam itu sebenarnya mereka kembali kepada fitrah. Mereka sudah merasa jenuh dengan kehidupan yang glamour, kehidupan yang serba bebas, ternyata dengan Islam mereka merasa hidup tertata rapi, tenteram, sakinah itu adalah dari Islam itu sendiri. Kalau misalkan mereka terus bergelut dengan kehidupan yang bebas seperti itu maka takkan ada kepuasan, yang ada adalah pelampiasan ketidakpuasan dengan berbagai bentuk hura-hura yang semakin semberaut, semakin merusak nilai-nilai akhlak. Jadi back to nature artinya kembali kepada Islam.

Bahwa semestinya kita menghayati dengan adanya waktu-waktu yang Allah berikan yaitu ramadhan, bulan syawal, itu semua adalah sisi-sisi keutamaan yang harus kita perhatikan. ramadhan kita dibina, digembleng, ditempa dengan berbagai macam kebaikan. Semestinya ini harus menjadikan kita lebih baik di bulan syawal bulan penimgkatan. Tapi realita yang terjadi sebagian besar umat justru bukan idul fitroh tapi idul fatroh. Bukan kembali kepada kesucian, kembali kepada naluri tapi kembali kepada keputusasaan, kembali kepada hilang semangat, hilang gairah atau malas-malasan itu yang terjadi, karena tidak menghayati nilai-nilai ruhiyah tadi yang erjadi pada saat ini. Demikian pula ramadhan telah meninggalkan kita, syawal telah meninggalkan kita, syukur-syukur kita ketemu lagi. Tetapi sebagai modal dasar, kalau kita menghayati makna waktu, urgensi waktu itu adalah seperti yang disampaikan oleh imam syafi’i
“Waktu itu ibarat pedang”,  jika tidak digunakan dengan sebaik-baiknya maka dia akan menggilas leher kita sendiri. Bahkan imam syafi’I mengomentari surah al-‘ashr itu: “sekiranya Allah tidak menurunkan hujjah yang lain kecuali surah ini (al-‘ashr) niscaya cukup untuk mereka”. Inilah kandungan yang terdapat dalam surah al-‘ashr termasuk urgensi waktu, jadi berpacu dalam waktu untuk meraih prestasi di dunia dan di akhirat. Itu yang harus kita pegang, istiqomah dalam ebenaran agar kita meraih prestasi di dunia juga di akhirat. Mengakhiri hidup dengan prestasi bukan dengan frustasi, yaitu husnul khotimah.
 


Ummu Fadhl Lubabah binti Al-Harits ra

Ummu Fadhl Lubabah binti Al-Harits ra. Adalah salah seorang shahabat wanita Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Beliau  ibunda dari seorang ulama besar dan ahli tafsir terkemuka, Abdullah bin Abbas, atau yang lebih sering dikenal dengan nama Ibnu Abbas. Suami beliau adalah Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam.
Ibnu Abbas dilahirkan ketika terjadi pemboikotan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada Bani Hasyim atas dakwah Islam yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dan para shahabatnya di Makkah.  Peristiwa ini terjadi tiga tahun sebelum Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam hijrah ke Madinah.  Setelah melahirkan Ibnu Abbas, Ummu Fadhl membawa bayinya kepada Rasulullah. Rasulullah pun memberinya nama Abdullah, lalu men-tahnik lidah bayi dengan ludahnya. Setelah selesai beliau berkata, “Bawalah anakmu ini. Kelak engkau akan mendapatinya sebagai seorang yang pandai dan bijaksana.” Ibnu Abbas ra. menceritakan, “Nabi saw mengusap kepalaku dan mendoakan agar aku mendapat hikmah.” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Ummu Fadhl r.a. melihat perkembangan dan keunggulan putranya itu dalam hal ilmu-ilmu agama.  Ketika Rasulullaah Shalallahu Alaihi Wasalam wafat, usia Ibnu Abbas baru sekitar 13 tahun. Ia dikenal sebagai ulama terbesar umat dan digelari Al-Bahr (laut), karena memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas. Umar r.a. dan Utsman r.a. selalu mengundangnya untuk meminta pendapat.  Ia sering memberi masukan kepada mereka berdua, padahal pada waktu itu masih banyak shahabat senior.  Ibnu Abbas sudah mulai memberikan fatwa pada masa pemerintahan Umar r.a. dan Utsman r.a.
Keistimewaan Ummu Fadhl yang lain di antaranya yang pertama adalah ketika ia memukul Abu Lahab pascaperang Badar hingga luka cukup parah. Hal ini karena Abu Lahab memukuli Abu Rafi’, yang saat itu adalah pelayan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam., di mana Abu Rafi’ berbahagia karena kaum muslimin menang dalam Perang Badar. Kedua, Ummu Fadhl adalah ibu susu bagi Al-Hasan dan Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib r.a, yang Rasulullaah Shalallahu Alaihi Wasalam sebutkan “Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin kaum muda penghuni surga.” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Abu Sa’id).
Insan Mulia Sukses Berkah, demikian sedikit kisah perjalan hidup Ummu Fadhl r.a. Seorang muslimah, sahabat Nabi, pejuang Islam. Semoga mampu menginspirasi kita terutama dalam rangka mendidik anak-anak kita.  Mari mulai mengidolakan pejuang-pejuang muslim yang hebat untuk dijadikan teladan atas diri pribadi kita. Allahu’alam

Idola, Bolehkah?

Naluri untuk mengidolakan sesuatu/seseorang memang wajar pada diri manusia, disadari atau tidak disadarinya. Alasan remaja mengidolakan idolanya dari segi fisik seperti mengidolakan figur karena ketampanannya  atau kecantikannya, gaya hidup atau mode atau ternd artis dengan penampilannya dengan meniru gaya yang salah dengan merubah penampilannya, hidup yang glamour penuh hura-hura dan mengikuti pergaulan bebas dari idolanya  dan memuja-muja yang berlebihan, dan para idola yang memiliki kemampuan tertentu dapat memukau para pengagumnya
Sifat ini tergantung bagaimana remaja menempatkan dirinya dan idolanya pada porsi yang sesuai Alasan lain remaja mengidolakan idolanya Tokoh idola bisa menjadi motivator bagi remaja, terutama untuk mencapai suatu prestasi tertentu, idola dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi oleh para remaja untuk memberdayakan potensi yang ada pada diri mereka, dan idola dapat dijadikan sebagai panutan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri remaja, sehingga akan tumbuh visi dalam dirinya, dalam hal ini menjadi seorang pemimpin yang ideal bagi orang lain.
 “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (Al-Munafiqun ayat 4)
sesungguhnya idola ( artis ) yang engkau jadikan panutan atas kehidupan ini hanyalah seorang manusia biasa seumpama kamu, hanya saja Allah Ta’ala memberikan nikmat yang sedikit lebih darimu atas mereka sebagai ujian dari sisi-Nya. Inilah fitrah manusia yang Allah Ta’ala jadikan, keindahan ini hanyalah sementara dan tiadalah yang kembali pada yang haq melainkan dengan petunjuk Allah Subhana wa Ta’ala.kita semua akan kembali pada-Nya.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.  (QS. Ali Imran : 10)
Dengan demikan jika kita mengidolakan seseorang dengan melihat siapa yang kita idolakan dan melihat dari segi akhlaknya memberikan pelajaran dan manfaat atau menyesatkan dan mendatangkan kemudhorotan terhadap kepribadian  sesorang. WAllahu a’alam bis Showab. (Jamilah).

Antara Facebook, Dakwah Dan Nikah

Sore itu ane terlibat pembicaraan singkat dengan salah seorang ikhwah. Dia darah muda, mahasiswa, kalau tak salah berusia 24 tahun dan belum lama menikah. Dan kini tengah nikmat-nikmatnya merasakan kesibukan berumahtangga dan ma’isyah.
Di depan ane yang bujang ini, dia mengungkapkan rasa keprihatinannya melihat generasi muda Islam yang kerjaannya keluyuran ke sana kemari tak jelas. Begadang tiap malam ngobrolin persoalan remeh temeh. Atau mungkin rajin main facebookan, rajin update status dan komen-komen. Menurutnya, semua kegiatan gajebo tersebut hanya bisa diatasi dengan nikah.
Nah, dari sekian kegiatan di atas tadi, ane jadi tertarik untuk mengamati penilaian dia terhadap para aktifis facebook bujang yang tak nikah-nikah, melalui kajian korelasi antara rendahnya tingkat keaktifan berfacebook ria dengan kesibukan berumahtangga. Apakah benar mereka yang tadinya aktif dakwah di FB akan pensiun  dakwah di jejaring sosial tersebut paska nikah. Atau tidak ada kaitan sama sekali antara tingkat keaktifan dakwah di FB dengan aktifitas RT. Ini hanya analisis sederhana, renyah dan easy yang coba ane lakukan lewat perenungan sekejap mata terhadap sedikit ikhwah aktifis FB yang kemudian tenggelam dari FB usai nikah. So, tingkat validitasnya boleh dipertanyakan.
Kawan ane satu kampus yang juga teman di FB, sudah sekian lama ini tak terlihat di FB paska nikah. Kulihat update status dan aktifitas terakhirnya di FB 1 tahun lalu. Itu berarti hanya beberapa saat setelah dia nikah. Kini dia tengah sibuk-sibuknya mengajar di SDIT, kampus, ngisi kajian di masjid juga tentu saja berumahtangga. Apa benar dia sama sekali ga sempat untuk berfaceboook ria lagi karena kesibukan tadi. Atau menurutnya FB ria hanyalah kerjaan tak bermanfaat.
Masih kawan ane, yang ane sebutkan di paragraph awal, juga ane amati mengalami hal serupa. Tak terlihat batang hidungnya di FB semenjak 3 bulan nikah. Padahal di FB kulihat dia gemar update status nasihat, ungkapan-ungkapam mutiara dan dalil-dalil. Chatting dengan orang arab. Upload foto kegiatan dll.  Namun seperti yang ia ungkapkan di atas, FB menurutnya merupakan kerjaan orang-orang bujang terlantar tak ada kesibukan. So, mulai saat itu dia tak mau muncul lagi di dunia maya. Dan lebih memilih meninggalkanya untuk kemudian menyibukkan diri ma’isyah dan mengajar. Demi mencitrakan diri sebagai pemuda sebenarnya.
Lagi kawan ane satu kerjaan. Awalnya memang dia bukanlah aktifis FB. Mungkin dalam sebulan dia hanya terlihat di FB tak lebih dari 3 kali. Namun saat dia nikah, intensitasnya jauh berkurang. Atau kalau tak salah dia malah sama sekali tak pernah nongol di FB. Kuperhatikan sejak menikah, tidak hanya aktifitas FB nya yang lenyap tapi juga ngajarnya yang terbengkalai. Dia pergi kesana kemari cari duit alias dagang cari nafkah.
Sekejap saja renungan itu kemudian hampir membuat ane memberikan kata sepakat dengan penilaian kawan ane di atas, bahwa FB hanyalah pelampiasan orang-orang bujang terlantar dari ketidakmampuan atau ketidakberanian untuk menikah. Namun ane tak mau berhenti pada ketiga kawan di atas. Karena rupanya ane punya beberapa kawan yang membuktikan sebaliknya, tetap aktif di FB meski sudah nikah.
Dia kakak kelas ane di Kampus. Nikah di usia 25 kalau tak salah. Saat masih lajang, boleh dibilang dia facebooker islamy. Mungkin hampir tiap hari dia update status dakwah. Dan kesibukannya di dunia FB itu rupanya tak berkurang saat berganti status menjadi ‘pria laku’. Aktifitasnya di dunia nyata juga seabrek. Kerja, aktif di organisasi, dakwah dan tentu saja ngurus rumah tangga. Namun, dia juga tak lupa untuk up date status.
Masih dengan kakak kelas ane yang lain. Sebelum nikah, dia tergolong rajin muncul di FB. Up date status hasil pertandingan bola. Komen status orang lain. Upload foto kegiatan, dll. Sejak nikah, rupanya dia masih doyan ngributin bola di FB. Komen status orang lain dan upload foto mesra bersama istri.
Terakhir, kakak kandung ane sendiri. Semasa bujang, hampir tiap saat dia update status. Setelah aktifitas dia tidak lupa up date status. Camping, kuliah, kerja dan bahkan mau tidur dia up date status dulu. Namun, intensitasnya di FB, justru kian bertambah sejak nikah. Coz, aktifitasnya kini bertambah, yakni ngurus anak dan istri. Jadi dia pun juga harus tambah statusnya tentang aktifitas rumah tangga. Dan masih banyak lagi mereka-mereka yang masih setia jadi facebooker meski sudah berstatus kawin.
Jadi kawan, rupanya penilaian teman ane di atas tidak sepenuhnya tepat. Jika ane cermati, fenomena hilangnya seseorang dari FB karena sibuk berumah tangga setelah sebegitu seringnya dia muncul di FB sebelum nikah, boleh jadi karena selama ini dia aktif di FB hanya untuk TePe-TePe (Tebar Pesona). Up date status nasihat, ungkapan mutiara dll yang dilakukanya ibarat seseorang yang berupaya menghiasi halaman rumahnya dengan tanaman untuk menarik kaum hawa datang dan penasaran dengan pemilik rumah tersebut. Dan belum tentu isi rumahnya seindah halaman rumahnya. Sehingga saat ada seorang akhwat yang jatuh hati padanya dan bersedia hidup di rumahnya, dia tidak lagi perlu untuk TePe-TePe.
Namun mereka yang eksis di FB menyebarkan seruan dakwah melalui status nasihat, doa, dalil-dalil dll, jika memang itu ikhlas dan tulus tentu saja akan tetap berlanjut meski dia telah nikah. Karna tentu saja, dalam hal ini, Jaka Sembung akan berkata “tak ada ada kaitannya antara  intensitas dakwah di FB dengan kesibukan rumah tangga, alias ga nyambung jek” Dakwah ya dakwah, rumah tangga ya rumah tangga.
Dari situ sedikit ane bisa simpulkan bahwa ketulusan seseorang dalam mendakwahkan Islam di FB bisa terbaca dari komparasi intensitasnya di jejaring sosial tersebut  pra dan paska nikah. Jadi apakah benar selama ini di FB dia mendakwahkan Islam atau justru hanya mendakwahkan dirinya yang seperti kata Wali ‘tak laku-laku’ ? Nah silakan kawan jawab sendiri pertanyaan ini. Wallahua’lam bish showab.

Pemuda Anti Galau

Oleh :Taufiqurrahman Al Harits
Sudah sepekan ini Budi bolos kuliah. Bukan karena dia tengah disibukkan aktivitas non kampus. Sebab sepekan itu pula dia pun tak terlihat di masjid sholat berjama’ah dan mengikuti kajian Islam. Saat ditemui kawan-kawan sekampus, Budi bercerita bahwa dirinya malas keluar kos. Akhir-akhir ini dia hanya tidur-tiduran serta bermain internet dan game di Laptop. Budi mengaku bahwa ia sedang bosan dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.
Sama halnya dengan Budi, Rima seorang mahasiswi penyuka sinetron dan film korea juga mengalami hal serupa. Dia merasa sedih hanya karena beberapa saat lalu pacarnya tidak membalas smsnya. Dia hanya diam menyendiri di kamar dan menangis berhari-hari. Lalu dia tumpahkan semua perasaannya di jejaring sosial.
Kegalauan jiwa yang menimpa ke dua kawan kita di atas mungkin sering pula kita jumpai di lingkungan kita. Atau bahkan kita sendiri yang pernah mengalaminya.
Kata galau akhir-akhir ini memang popular kita dengar sebagai istilah gaul dalam kehidupan remaja.Tidak hanya sebagai sebuah istilah gaul yang kerap mereka sebutkan, rupanya tanpa sadar mereka pun menganggap kondisi kegalauan jiwa ini sebagai bagian dari hidup gaul. Dalam istilah mereka, ‘Engga Galau engga Gaul.’
Akibatnya, mereka akan merasa senang dan dianggap sebagai remaja gaul jika mereka ikut merasakan galau dalam jiwanya. Musibah sekecil apapun akan sangat sensitive menyentuh perasaan mereka yang kemudian membuat mereka bersedih dan menangis. Atau seperti yang dialami Budi, yang kemudian malas kuliah dan lebih memilih tidur-tiduran. Dan ketika kegalauan itu diketahui oleh orang lain, mereka merasa bangga dan senang karena dipandang sebagai remaja gaul. Seperti telah terjadi upaya kanalisasi eksistensi dalam jiwanya. Tak heran jika kemudian, mereka dengan mudahnya mengekpresikan ke’galau’annya melalui facebook ataupun twitter untuk mendapat respon dari kawan-kawannya.
Jika dianalisis secara psiko-sosial, para remaja yang seringkali update status bernada galau, pada dasarnya disebabkan oleh obsesi untuk menjadi pusat perhatian teman-teman sebayanya. Karena yang tengah menjadi trend adalah fenomena tersebut, maka mereka menganggap jika keluar dari trend maka mereka akan terasing dari komunitasnya. Keinginan untuk dianggap “ada” bahkan lebih baik dan paling “hebat” mendorong mereka untuk berperilaku ganda. Berbeda kepribadian antara dunia nyata dan dunia maya. Yang tadi biasanya pendiam dapat menjadi sangat enerjik untuk mengekspresikan dirinya.  Keadaan ini juga memaksa mereka untuk dapat menampilkan “kepalsuan” yang diciptakan hanya untuk terlihat lebih dan beda.
Fenomena demikian tentu tidak sepantasnya terjadi dalam kehidupan pemuda muslim. Seorang muslim harus pandai memahami setiap masalah lalu menyikapinya dengan bijak. Bukan dengan melebih-lebihkan masalah sepele. Karena itu adalah bukti bahwa dia tidak sanggup menerima ujian yang menimpanya.
Dalam menyikap setiap problema, seorang pemuda muslim tidak sewajarnya mengeluh dan mengeluh. Padahal mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Justru menambah beban masalah dalam dirinya. Terlebih ketika keluhan itu disampaikan ke arah yang salah.
Seorang pemuda muslim, dalam menyikapi masalah senantiasa bijak dan berbaik sangka. Ia tidak pernah mengeluhkan masalah secara berlebihan, apalagi jika hanya untuk pamer masalah. Ia memahami bahwa ujian yang menimpanya tidak akan melebihi batas kemampuan dirinya untuk mengatasinya. Dan pada hakikatnya, ujian itu datang dari Allah untuk menguji keimanannya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Karena ujian itu datang dari-Nya, maka ia pun mengeluhkan masalah itu kepada-Nya dan memohon agar dicarikan jalan keluarnya. Kemudian ia berusaha untuk tetap sabar dalam menjalani ujian sembari terus berikhtiar mencari solusi.
“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan Sabar dan Sholat dan sesungguhnya Sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” (QS Al Baqarah: 45)
Untuk itu wahai pemuda muslim, jangan mudah mengeluh dan jenuh. Jadilah pemuda yang kuat mental dan tangguh dengan keimananmu.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS – Ar Ra’d 28)
Wallahu waliyut taufiiq

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More