This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 04 November 2012

Ummu Fadhl Lubabah binti Al-Harits ra

Ummu Fadhl Lubabah binti Al-Harits ra. Adalah salah seorang shahabat wanita Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Beliau  ibunda dari seorang ulama besar dan ahli tafsir terkemuka, Abdullah bin Abbas, atau yang lebih sering dikenal dengan nama Ibnu Abbas. Suami beliau adalah Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam.
Ibnu Abbas dilahirkan ketika terjadi pemboikotan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada Bani Hasyim atas dakwah Islam yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dan para shahabatnya di Makkah.  Peristiwa ini terjadi tiga tahun sebelum Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam hijrah ke Madinah.  Setelah melahirkan Ibnu Abbas, Ummu Fadhl membawa bayinya kepada Rasulullah. Rasulullah pun memberinya nama Abdullah, lalu men-tahnik lidah bayi dengan ludahnya. Setelah selesai beliau berkata, “Bawalah anakmu ini. Kelak engkau akan mendapatinya sebagai seorang yang pandai dan bijaksana.” Ibnu Abbas ra. menceritakan, “Nabi saw mengusap kepalaku dan mendoakan agar aku mendapat hikmah.” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Ummu Fadhl r.a. melihat perkembangan dan keunggulan putranya itu dalam hal ilmu-ilmu agama.  Ketika Rasulullaah Shalallahu Alaihi Wasalam wafat, usia Ibnu Abbas baru sekitar 13 tahun. Ia dikenal sebagai ulama terbesar umat dan digelari Al-Bahr (laut), karena memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas. Umar r.a. dan Utsman r.a. selalu mengundangnya untuk meminta pendapat.  Ia sering memberi masukan kepada mereka berdua, padahal pada waktu itu masih banyak shahabat senior.  Ibnu Abbas sudah mulai memberikan fatwa pada masa pemerintahan Umar r.a. dan Utsman r.a.
Keistimewaan Ummu Fadhl yang lain di antaranya yang pertama adalah ketika ia memukul Abu Lahab pascaperang Badar hingga luka cukup parah. Hal ini karena Abu Lahab memukuli Abu Rafi’, yang saat itu adalah pelayan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam., di mana Abu Rafi’ berbahagia karena kaum muslimin menang dalam Perang Badar. Kedua, Ummu Fadhl adalah ibu susu bagi Al-Hasan dan Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib r.a, yang Rasulullaah Shalallahu Alaihi Wasalam sebutkan “Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin kaum muda penghuni surga.” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Abu Sa’id).
Insan Mulia Sukses Berkah, demikian sedikit kisah perjalan hidup Ummu Fadhl r.a. Seorang muslimah, sahabat Nabi, pejuang Islam. Semoga mampu menginspirasi kita terutama dalam rangka mendidik anak-anak kita.  Mari mulai mengidolakan pejuang-pejuang muslim yang hebat untuk dijadikan teladan atas diri pribadi kita. Allahu’alam

Idola, Bolehkah?

Naluri untuk mengidolakan sesuatu/seseorang memang wajar pada diri manusia, disadari atau tidak disadarinya. Alasan remaja mengidolakan idolanya dari segi fisik seperti mengidolakan figur karena ketampanannya  atau kecantikannya, gaya hidup atau mode atau ternd artis dengan penampilannya dengan meniru gaya yang salah dengan merubah penampilannya, hidup yang glamour penuh hura-hura dan mengikuti pergaulan bebas dari idolanya  dan memuja-muja yang berlebihan, dan para idola yang memiliki kemampuan tertentu dapat memukau para pengagumnya
Sifat ini tergantung bagaimana remaja menempatkan dirinya dan idolanya pada porsi yang sesuai Alasan lain remaja mengidolakan idolanya Tokoh idola bisa menjadi motivator bagi remaja, terutama untuk mencapai suatu prestasi tertentu, idola dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi oleh para remaja untuk memberdayakan potensi yang ada pada diri mereka, dan idola dapat dijadikan sebagai panutan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri remaja, sehingga akan tumbuh visi dalam dirinya, dalam hal ini menjadi seorang pemimpin yang ideal bagi orang lain.
 “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (Al-Munafiqun ayat 4)
sesungguhnya idola ( artis ) yang engkau jadikan panutan atas kehidupan ini hanyalah seorang manusia biasa seumpama kamu, hanya saja Allah Ta’ala memberikan nikmat yang sedikit lebih darimu atas mereka sebagai ujian dari sisi-Nya. Inilah fitrah manusia yang Allah Ta’ala jadikan, keindahan ini hanyalah sementara dan tiadalah yang kembali pada yang haq melainkan dengan petunjuk Allah Subhana wa Ta’ala.kita semua akan kembali pada-Nya.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.  (QS. Ali Imran : 10)
Dengan demikan jika kita mengidolakan seseorang dengan melihat siapa yang kita idolakan dan melihat dari segi akhlaknya memberikan pelajaran dan manfaat atau menyesatkan dan mendatangkan kemudhorotan terhadap kepribadian  sesorang. WAllahu a’alam bis Showab. (Jamilah).

Antara Facebook, Dakwah Dan Nikah

Sore itu ane terlibat pembicaraan singkat dengan salah seorang ikhwah. Dia darah muda, mahasiswa, kalau tak salah berusia 24 tahun dan belum lama menikah. Dan kini tengah nikmat-nikmatnya merasakan kesibukan berumahtangga dan ma’isyah.
Di depan ane yang bujang ini, dia mengungkapkan rasa keprihatinannya melihat generasi muda Islam yang kerjaannya keluyuran ke sana kemari tak jelas. Begadang tiap malam ngobrolin persoalan remeh temeh. Atau mungkin rajin main facebookan, rajin update status dan komen-komen. Menurutnya, semua kegiatan gajebo tersebut hanya bisa diatasi dengan nikah.
Nah, dari sekian kegiatan di atas tadi, ane jadi tertarik untuk mengamati penilaian dia terhadap para aktifis facebook bujang yang tak nikah-nikah, melalui kajian korelasi antara rendahnya tingkat keaktifan berfacebook ria dengan kesibukan berumahtangga. Apakah benar mereka yang tadinya aktif dakwah di FB akan pensiun  dakwah di jejaring sosial tersebut paska nikah. Atau tidak ada kaitan sama sekali antara tingkat keaktifan dakwah di FB dengan aktifitas RT. Ini hanya analisis sederhana, renyah dan easy yang coba ane lakukan lewat perenungan sekejap mata terhadap sedikit ikhwah aktifis FB yang kemudian tenggelam dari FB usai nikah. So, tingkat validitasnya boleh dipertanyakan.
Kawan ane satu kampus yang juga teman di FB, sudah sekian lama ini tak terlihat di FB paska nikah. Kulihat update status dan aktifitas terakhirnya di FB 1 tahun lalu. Itu berarti hanya beberapa saat setelah dia nikah. Kini dia tengah sibuk-sibuknya mengajar di SDIT, kampus, ngisi kajian di masjid juga tentu saja berumahtangga. Apa benar dia sama sekali ga sempat untuk berfaceboook ria lagi karena kesibukan tadi. Atau menurutnya FB ria hanyalah kerjaan tak bermanfaat.
Masih kawan ane, yang ane sebutkan di paragraph awal, juga ane amati mengalami hal serupa. Tak terlihat batang hidungnya di FB semenjak 3 bulan nikah. Padahal di FB kulihat dia gemar update status nasihat, ungkapan-ungkapam mutiara dan dalil-dalil. Chatting dengan orang arab. Upload foto kegiatan dll.  Namun seperti yang ia ungkapkan di atas, FB menurutnya merupakan kerjaan orang-orang bujang terlantar tak ada kesibukan. So, mulai saat itu dia tak mau muncul lagi di dunia maya. Dan lebih memilih meninggalkanya untuk kemudian menyibukkan diri ma’isyah dan mengajar. Demi mencitrakan diri sebagai pemuda sebenarnya.
Lagi kawan ane satu kerjaan. Awalnya memang dia bukanlah aktifis FB. Mungkin dalam sebulan dia hanya terlihat di FB tak lebih dari 3 kali. Namun saat dia nikah, intensitasnya jauh berkurang. Atau kalau tak salah dia malah sama sekali tak pernah nongol di FB. Kuperhatikan sejak menikah, tidak hanya aktifitas FB nya yang lenyap tapi juga ngajarnya yang terbengkalai. Dia pergi kesana kemari cari duit alias dagang cari nafkah.
Sekejap saja renungan itu kemudian hampir membuat ane memberikan kata sepakat dengan penilaian kawan ane di atas, bahwa FB hanyalah pelampiasan orang-orang bujang terlantar dari ketidakmampuan atau ketidakberanian untuk menikah. Namun ane tak mau berhenti pada ketiga kawan di atas. Karena rupanya ane punya beberapa kawan yang membuktikan sebaliknya, tetap aktif di FB meski sudah nikah.
Dia kakak kelas ane di Kampus. Nikah di usia 25 kalau tak salah. Saat masih lajang, boleh dibilang dia facebooker islamy. Mungkin hampir tiap hari dia update status dakwah. Dan kesibukannya di dunia FB itu rupanya tak berkurang saat berganti status menjadi ‘pria laku’. Aktifitasnya di dunia nyata juga seabrek. Kerja, aktif di organisasi, dakwah dan tentu saja ngurus rumah tangga. Namun, dia juga tak lupa untuk up date status.
Masih dengan kakak kelas ane yang lain. Sebelum nikah, dia tergolong rajin muncul di FB. Up date status hasil pertandingan bola. Komen status orang lain. Upload foto kegiatan, dll. Sejak nikah, rupanya dia masih doyan ngributin bola di FB. Komen status orang lain dan upload foto mesra bersama istri.
Terakhir, kakak kandung ane sendiri. Semasa bujang, hampir tiap saat dia update status. Setelah aktifitas dia tidak lupa up date status. Camping, kuliah, kerja dan bahkan mau tidur dia up date status dulu. Namun, intensitasnya di FB, justru kian bertambah sejak nikah. Coz, aktifitasnya kini bertambah, yakni ngurus anak dan istri. Jadi dia pun juga harus tambah statusnya tentang aktifitas rumah tangga. Dan masih banyak lagi mereka-mereka yang masih setia jadi facebooker meski sudah berstatus kawin.
Jadi kawan, rupanya penilaian teman ane di atas tidak sepenuhnya tepat. Jika ane cermati, fenomena hilangnya seseorang dari FB karena sibuk berumah tangga setelah sebegitu seringnya dia muncul di FB sebelum nikah, boleh jadi karena selama ini dia aktif di FB hanya untuk TePe-TePe (Tebar Pesona). Up date status nasihat, ungkapan mutiara dll yang dilakukanya ibarat seseorang yang berupaya menghiasi halaman rumahnya dengan tanaman untuk menarik kaum hawa datang dan penasaran dengan pemilik rumah tersebut. Dan belum tentu isi rumahnya seindah halaman rumahnya. Sehingga saat ada seorang akhwat yang jatuh hati padanya dan bersedia hidup di rumahnya, dia tidak lagi perlu untuk TePe-TePe.
Namun mereka yang eksis di FB menyebarkan seruan dakwah melalui status nasihat, doa, dalil-dalil dll, jika memang itu ikhlas dan tulus tentu saja akan tetap berlanjut meski dia telah nikah. Karna tentu saja, dalam hal ini, Jaka Sembung akan berkata “tak ada ada kaitannya antara  intensitas dakwah di FB dengan kesibukan rumah tangga, alias ga nyambung jek” Dakwah ya dakwah, rumah tangga ya rumah tangga.
Dari situ sedikit ane bisa simpulkan bahwa ketulusan seseorang dalam mendakwahkan Islam di FB bisa terbaca dari komparasi intensitasnya di jejaring sosial tersebut  pra dan paska nikah. Jadi apakah benar selama ini di FB dia mendakwahkan Islam atau justru hanya mendakwahkan dirinya yang seperti kata Wali ‘tak laku-laku’ ? Nah silakan kawan jawab sendiri pertanyaan ini. Wallahua’lam bish showab.

Pemuda Anti Galau

Oleh :Taufiqurrahman Al Harits
Sudah sepekan ini Budi bolos kuliah. Bukan karena dia tengah disibukkan aktivitas non kampus. Sebab sepekan itu pula dia pun tak terlihat di masjid sholat berjama’ah dan mengikuti kajian Islam. Saat ditemui kawan-kawan sekampus, Budi bercerita bahwa dirinya malas keluar kos. Akhir-akhir ini dia hanya tidur-tiduran serta bermain internet dan game di Laptop. Budi mengaku bahwa ia sedang bosan dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.
Sama halnya dengan Budi, Rima seorang mahasiswi penyuka sinetron dan film korea juga mengalami hal serupa. Dia merasa sedih hanya karena beberapa saat lalu pacarnya tidak membalas smsnya. Dia hanya diam menyendiri di kamar dan menangis berhari-hari. Lalu dia tumpahkan semua perasaannya di jejaring sosial.
Kegalauan jiwa yang menimpa ke dua kawan kita di atas mungkin sering pula kita jumpai di lingkungan kita. Atau bahkan kita sendiri yang pernah mengalaminya.
Kata galau akhir-akhir ini memang popular kita dengar sebagai istilah gaul dalam kehidupan remaja.Tidak hanya sebagai sebuah istilah gaul yang kerap mereka sebutkan, rupanya tanpa sadar mereka pun menganggap kondisi kegalauan jiwa ini sebagai bagian dari hidup gaul. Dalam istilah mereka, ‘Engga Galau engga Gaul.’
Akibatnya, mereka akan merasa senang dan dianggap sebagai remaja gaul jika mereka ikut merasakan galau dalam jiwanya. Musibah sekecil apapun akan sangat sensitive menyentuh perasaan mereka yang kemudian membuat mereka bersedih dan menangis. Atau seperti yang dialami Budi, yang kemudian malas kuliah dan lebih memilih tidur-tiduran. Dan ketika kegalauan itu diketahui oleh orang lain, mereka merasa bangga dan senang karena dipandang sebagai remaja gaul. Seperti telah terjadi upaya kanalisasi eksistensi dalam jiwanya. Tak heran jika kemudian, mereka dengan mudahnya mengekpresikan ke’galau’annya melalui facebook ataupun twitter untuk mendapat respon dari kawan-kawannya.
Jika dianalisis secara psiko-sosial, para remaja yang seringkali update status bernada galau, pada dasarnya disebabkan oleh obsesi untuk menjadi pusat perhatian teman-teman sebayanya. Karena yang tengah menjadi trend adalah fenomena tersebut, maka mereka menganggap jika keluar dari trend maka mereka akan terasing dari komunitasnya. Keinginan untuk dianggap “ada” bahkan lebih baik dan paling “hebat” mendorong mereka untuk berperilaku ganda. Berbeda kepribadian antara dunia nyata dan dunia maya. Yang tadi biasanya pendiam dapat menjadi sangat enerjik untuk mengekspresikan dirinya.  Keadaan ini juga memaksa mereka untuk dapat menampilkan “kepalsuan” yang diciptakan hanya untuk terlihat lebih dan beda.
Fenomena demikian tentu tidak sepantasnya terjadi dalam kehidupan pemuda muslim. Seorang muslim harus pandai memahami setiap masalah lalu menyikapinya dengan bijak. Bukan dengan melebih-lebihkan masalah sepele. Karena itu adalah bukti bahwa dia tidak sanggup menerima ujian yang menimpanya.
Dalam menyikap setiap problema, seorang pemuda muslim tidak sewajarnya mengeluh dan mengeluh. Padahal mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Justru menambah beban masalah dalam dirinya. Terlebih ketika keluhan itu disampaikan ke arah yang salah.
Seorang pemuda muslim, dalam menyikapi masalah senantiasa bijak dan berbaik sangka. Ia tidak pernah mengeluhkan masalah secara berlebihan, apalagi jika hanya untuk pamer masalah. Ia memahami bahwa ujian yang menimpanya tidak akan melebihi batas kemampuan dirinya untuk mengatasinya. Dan pada hakikatnya, ujian itu datang dari Allah untuk menguji keimanannya.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Karena ujian itu datang dari-Nya, maka ia pun mengeluhkan masalah itu kepada-Nya dan memohon agar dicarikan jalan keluarnya. Kemudian ia berusaha untuk tetap sabar dalam menjalani ujian sembari terus berikhtiar mencari solusi.
Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan Sabar dan Sholat dan sesungguhnya Sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” (QS Al Baqarah: 45)
Untuk itu wahai pemuda muslim, jangan mudah mengeluh dan jenuh. Jadilah pemuda yang kuat mental dan tangguh dengan keimananmu.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS – Ar Ra’d 28)
Wallahu waliyut taufiiq

Rabu, 24 Oktober 2012

TIPS MENGATASI VMJ (virus merah jambu) bagi akhwat

Entah bagaimana mendeskripsikan perasaan ini
Kalut dalam masalah menjadikan hidup makin tak terarah
Hal ini lah yang sering dialami oleh akhwat-akhwat kita yang sedang dilanda dilema kelas berat, entah karna patah hati atau bahkan jatuh cinta yang tak terungap. ketika seorang akhwat dilanda virus merah jambu  bisa jadi dia tersiksa dengan virus itu, bukan hanya membahayakan bahkan sampai mematikan jika tidak ditanggulangi dengan baik dan benar,
Wah jatuh cinta kok keliatan serem gitu sih? Kok bisa?
Ya bisa saja, karena saat akhwat jatuh cinta ia tak mampu melakukan apa-apa selain memedam dalam hati terdalam, memang itu lah yang harus dilakukan bagi akhwat yang terserang virus ini.
Hal yang tak lumrah bukan bila akhwat menyatakan perasaannya pada ikhwan yang disukainya, kan gengsi gitu.
Terus harus bagaimana donk supaya doi tau tentang perasaan ini?
Nah itu yang harus dibahas lebih dalam, mau tau gimana seharusnya? Ayo baca lagi J
Akhwat ku yang aku cintai karena Allah,, Allah itu Maha Mengetahui apapun persoalan hamba-Nya bahkan perasaan cinta yang dipendam didalam hati paling dalam puun tentu Allah tahu, jadi bermunjatlah pada-Nya minta dipersatukan dengan seseorang yang disukai (karena agamanya yang baik).
Jangan ada keraguan sedikitpun untuk meminta pada-Nya, karena Allah tak akan menyia-nyiakan doa hamba-Nya yang bertakwa.
Mau tau gimana lafaz doa nya?
Saya lampirkan arti doa nya saja ya, J

Ya Allah, aku memohon dipilihkan oleh-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kemampuan-Mu dengan kuasa-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa. Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkaulah yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah jika menurut-Mu dia (sebutkan nama ikhwan nya) baik bagi agama ku, kehidupan ku dan akhir dari kesudahan urusan ku maka takdirkanlah ia untuk ku. Dan jika menurut-Mu dia tidak baik untuk ku dan bagi agamaku  maka jauhkanlah ia dariku. Dan takdirkanlah kebaikan bagiku dimana saja berada. Dan jadikanlah aku ridho terhadap kebaikan tersebut.

Nah doa ini dibaca saat akhwat sekalian sholat istikhoroh 2 roka’at di sepertiga malam, inget bacanya pas dalam keadaan shoat ya, bisa pas sujud terakhir bisa juga sebelum salam, setelah sholat juga perlu doa tambahan loh ukhti, supa hajat kita di kabulkan oleh-Nya.
Gimana nih ukhti, apakah tulisan ini sudah bisa menepis kegalauan hati ukhti sekalian? Kalo masih belum puas bisa di baca di tulisan saya selanjutnya.
Sebelum berpisah saya punya satu wasiat untuk akhwat penderita VMJ (virus merah jambu hehe)
Perasaan cinta hanya layak diberikan pada pasangan yang sudah halal bagi kita jadi jika ukhti merasakannya sebelum menikah harus di handle sedemikian rupa jangan sampai rasa itu muncul ke permukaan dan menjadikan kita lupa akan cinta sejati-Nya. Olahlah perasaan mu sebaik mungkin, singkirkan hal-hal yang mampu mengundang VMj itu menyelinap di hati ukhti,
Selamat mencoba ya ukh, semoga dapat kasih sayang dari Allah sang Maha pemilik cinta sejati.
Wasalam 

by: Azkiya mumtazah 

Kamis, 12 April 2012

RASULULLAH CONTOH UTAMA DALAM KEPEMIMPINAN

(Syeikh Dr. Abu Ahmad )*

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada diri seseorang, maka akan difahamkan dalam ilmu agama.” (Al-Hadits ).

Seorang penulis non muslim pernah menulis 100 tokoh paling berpengaruh di dunia dan dalam sejarah. Tokoh yang menempati urutan pertama menurut si penulis adalah Muhammad (Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam ).


Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah uswatun hasanah dalam segala hal. Terutama dalam hal Kepemimpinan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah pemimpin terbaik yang pernah ada. Beliau telah memimpin dan mengarahkan para sahabat untuk beribadah kepada Allah.
Ada 3 keistimewaan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam memimpin:
  1. 1.     Berakhlak tinggi dan mulia.
  2. 2.     Al-Qur’an sebagai pedoman.
  3. 3.     Beribadah hanya kepada Allah.

Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
·        Seorang muslim mungkin menjadi pengecut,
·        Seorang muslim mungkin menjadi kikir,
·        Tapi seorang muslim tidak mungkin berdusta.

Sifat-sifat istimewa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai pemimpin :
  1. 1.     Amanah.
  2. 2.     Tawadhu’.
  3. 3.     Penuh kasih sayang.
  4. 4.     Penyayang.
  5. 5.     Adil.
  6. 6.     Kepribadian mulia.
  7. 7.     Suka bermusyawarah.
  8. 8.     Tidak memiliki kelebihan dunia melebihi apa yang dimiliki para sahabat.
  9. 9.     Memiliki perencanaan ke depan yang matang.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
“Bertaqwalah kepada Allah sehingga Allah akan mengajarimu.”
Kuncinya adalah :  “Jadikan rasa takut kepada Allah untuk menggerakkan, mengatur dan mengarahkan massa untuk mencapai suatu tujuan.”.

*Dokter Specialis Anak
  Ketua Lembaga Al-Khairiyah di Palestina


 sumber : pengawalkhilafah.blogspot.com

Kamis, 29 Desember 2011

Orang Baik dan Orang Tidak Baik

Berkali-kali Al-Qur’an menunjuk orang ini sebagai sosok kontroversi dalam tutur kata dan perbuatannya  yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Hampir setiap ada fitnah yang menimpa kaum Muslimin di Madinah selalu ada peran Abdullah bin Ubay sebagai provokatornya, bahkan peristiwa haditsul ifki (berita palsu) yang menimpa Ummul Mukminin “Aisyah” R. A. Al Qur’an mengisyaratkan Abdullah bin Ubay sebagai pembesar yang mengendalikannya.

Hingga tahun ke 9 Hijriyah, sepulang Rasulullah   dari perang Tabuk, di akhir bulan Syawwal Abdullah bin Ubay menderita sakit. Mendengar Abdullah bin Ubay sakit, Rasulullah   menyempatkan diri untuk membesuknya. Rasulullah   tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang bermartabat meskipun kepada orang yang sering Rasulullah ketahui dari Allah SWT sebagai pembuat masalah. Secara zahir Abdullah bin Ubay menunjukkan dirinya sebagai seorang Muslim, maka ia berhak mendapatkan hak keIslaman itu dengan dibesuk ketika sakit.

Pada bulan berikutnya, bulan Dzulqa’dah Abdullah bin Ubay wafat. Anak lelaki Abdullah bi Ubay, yang bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay datang menemui Rasulullah  , meminta salah satu kain Rasulullah   untuk dijadikan sebagai kafan bagi Abdullah bin Ubay, ayahnya. Dan Rasulullah   mengabulkan permintaan itu dan memberikan kainnya kepada Abdullah bin Abdullah bin Ubay untuk menjadi kafan bagi jenazah ayahnya.

Kemudian Abdullah bin Abdullah juga meminta agar Rasulullah   berkenan datang menshalatkannya. Maka Rasulullah   datang untuk menshalatkan jenazah itu. Ketika Rasulullah   berdiri hendak menshalatkannya, Umar bin Khaththab menarik baju Rasulullah   dari belakang dan berkata: “Wahai Rasulullah, Engkau akan menshalatkannya? Bukankah Allah melarangmu untuk menshalatkannya?

Rasulullah   menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepadaku dua pilihan kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS at-Taubah:80) Dan saya akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.

Umar berkata: “Sesungguhnya dia itu orang munafiq”. Setelah Rasulullah   menshalatkannya, barulah turun ayat: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik. (QS. At-Taubah:84)

Rasulullah   menshalatkannya ketika itu karena memperlakukannya secara zahir, yaitu pengakuan Abdullah bin Ubay bahwa ia seorang Muslim. Dan Islam mengajarkan ummatnya untuk memperlakukan manusia sesuai dengan kondisi zahirnya, urusan hati dan batinnya adalah kewenangan Allah SWT, atau Rasulullah   menshalatkannya untuk menghormati anaknya Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang merupakan salah satu sahabat mulia. 

Bagi Abdullah bin Abdullah bin Ubay kematian ayahnya itu menjadi salah satu bukti bahwa berbakti kepada orang tua tetap dilakukan oleh seorang anak, meskipun ia tahu bahwa ayahnya bergelimang dosa dan berlumur maksiat. Selama orang tua itu tidak menyuruhnya berbuat maksiat atau melarangnya beramal shalih.

Orang baik akan senantiasa membuat kebaikan meskipun kepada orang  yang tidak baik. Sedangkan orang yang tidak baik akan terus membuat keburukan meskipun kepada orang yang membuat kebaikan.  Wallahu a’lam. (Nisa)

sumber: http://www.sabili.co.id/ibroh

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More